Selamat Jalan, Sahabat (selesai)

Satu minggu kemudian saya mendapat kabar dari ibunya, bahwa dia telah dipindahkan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena akan menjalani operasi di sana. Pada hari sabtu, saya dan beberapa orang yang mengenalnya, teman-teman dan junior di kampus, menjenguknya ke RSCM. Saat itu kami hampir tidak berkomunikasi sama sekali. Kondisinya menurun, dia sudah sangat susah berbicara dan seluruh tubuh bagian kirinya sudah tidak dapat digerakkan.

Saat itu kami hanya menyapa sebentar, mengabarkan bahwa kami datang. Selebihnya kami mengobrol dengan bapak dan ibunya. Tiba-tiba ibunya mengambil hp milik Agus. Kemudian meminta bantuan saya untuk mengunduh aplikasi Alquran. Agus sudah tidak bisa menggunakan hpnya sama sekali dan beberapa hari ini dia minta diputarkan suara Alquran tapi ibunya sama sekali tidak tahu cara menggunakan smart phone. Akhirnya saya mengunduh sebuah aplikasi Alquran yang terlihat paling sederhana agar ibunya tidak bingung dalam menggunakannya. Saat itu juga saya putarkan juz 30 di dekat bantalnya.

Kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa kabarin yaa, Tante, insh Allah lusa saya ke sini lagi pas Agus operasi” Ujarku ke ibunya Agus sebelum meninggalkan ruangan rawat inap. Saat itu kami semua hanya bisa mendoakan semoga Allah memberi kesembuhan padanya dan operasinya lancar.

Keesokan harinya, pada hari minggu, setelah salat subuh saya melihat ada misscall dari ibunya Agus sepuluh menit yang lalu. Saat itu saya berusaha berhusnudzon bahwa semuanya baik-baik saja. Tidak lama kemudian ibunya kembali menelepon. “Mbak Lulun, Mas Agus udah ngga ada tadi jam empat” Kalimat singkat beliau berhasil membuat saya kehilangan kata-kata. Saya langsung menghubungi orang-orang yang kemarin bersama saya menjenguk Agus.

Saat itu yang ada di pikiran saya adalah apakah ibunya bisa mengurus semuanya? Beliau tidak mengenal siapapun di Jakarta dengan baik selain saya. Sesampainya di RSCM, ternyata pihak hrd kantor Agus sudah di sana. Alhamdulillah semua urusan administrasi rumah sakit dan pengiriman jenazah diurus oleh kantornya. Kami semua menunggu di kamar jenazah, kemudian tiba-tiba pihak rumah sakit datang dan meminta sabun serta sampo yang akan digunakan untuk memandikan jenazah.

Seumur-umur saya belum pernah menghadapi secara langsung tata cara mengurus jenazah di rumah sakit. Ternyata rumah sakit menyerahkan proses memandikan jenazah kepada keluarga. Akhirnya saya membantu beliau membeli sabun dan sampo yang jenisnya sering dipakai oleh Agus. Sebagai mandi terakhir kalinya, ibunya ingin agar dia menggunakan sabun dan sampo kesukaannya. Seorang teman saya mengantarkan sabun itu ke ruang pemandian jenazah, dan ternyata memang proses pemandiannya semuanya dilakukan oleh keluarga. Pihak rumah sakit hanya membantu mengarahkan.

Tidak lama kemudian kamar jenazah mulai ramai, teman-teman kerja dan teman kuliah Agus mulai berdatangan. Ibunya terlihat sangat tegar sekali, meskipun saya tau beliau sangat sedih. Agus adalah anak pertama dan satu-satunya laki-laki, bisa dibilang dia adalah harapan utama dan penopang keluarga, tapi ternyata usianya hanya seperempat abad. Pihak hrd kantornya meminta saya menemani orang tua Agus ke Soekarno Hatta karena dikhawatirkan beliau akan kebingungan ketika di sana.

Lagi-lagi, seumur-umur itu adalah pengalaman pertama saya duduk di mobil ambulans yang berisi jenazah, jenazah sahabat saya sendiri. Sepanjang perjalanan saya hanya bisa mendoakan Agus dan seolah-olah berbicara dengannya dalam hati. “Gus, dulu waktu pertama kali kamu naik pesawat adalah ketika kita ke Makassar buat lomba. Sekarang terakhir kali kamu naik pesawat, maaf yah Gus, aku cuma bisa antar kamu sampai bandara aja. Banyak orang yang sayang ama kamu Gus, temen-temen kuliah pada nungguin di Juanda mau jemput kamu, ikutan ngantar kamu ke Jombang.

Wafatnya Agus benar-benar menjadi pengingat bagi semua orang yang mengenalnya. Sehebat apapun kita, sekuat apapun kita, ajal akan menjemput kapan saja. Tidak memandang usia, tua atau muda, semuanya bisa wafat kapan saja. Lagi-lagi kanker menjadi penyebab wafatnya salah satu orang terdekat yang saya kenal. Di sini yang bisa saya sampaikan adalah jangan meremehkan penyakit sekecil apapun itu. Sesuatu yang terlihat kecil dan sepele, bisa jadi dia sedang menggrogoti organ dalam tubuh kita. Memang ajal tidak ada yang tahu, namun apa salahnya untuk berjuang tetap hidup? Bukankah ada banyak alasan mengapa kita harus tetap hidup?

Lulun Khairunnisa,

Ditulis di kegelapan mana, 17 Mei 2019

Dibaca di mana saja, kapan saja

Advertisements

One thought on “Selamat Jalan, Sahabat (selesai)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s