Kanker dan Penolakan, Wajarkah?

Pada pertengahan tahun 2015, mama memutuskan untuk ke dokter memeriksakan benjolan di payudara setelah sebelumnya membiarkan begitu saja dan menganggap itu hanya lah masalah hormon karena akan datang bulan. Namun, setelah beberapa bulan ternyata tetap tidak ada perubahan juga, benjolannya tetap ada. Dari situ mama mulai was-was dan akhirnya memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter. Kala itu Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSK Dharmais) langsung menjadi pilihan untuk pemeriksaan tahap awal. Sebagai informasi, di Dharmais tidak menerima BPJS untuk pemeriksaan awal atau deteksi dini kanker. Dharmais menerima BPJS setelah adanya hasil patalogi anatomi (PA) yang memastikan bahwa memang ada kanker pada tubuh pasien. Karena saking banyaknya pasien, maka kebijakan ini diberlakukan.

Di Dharmais, mama menjalani pemeriksaan mamografi dan USG. Awalnya ketika melihat hasil mamografi, dokter menyatakan bahwa benjolan yang ada adalah tumor jinak. Hanya dianjurkan untuk makan makanan yang sehat dan lebih menjaga pola hidup. Namun hasil USG menunjukkan sebaliknya, ada kemungkinan kanker yang muncul sehingga dokter menyarankan untuk melakukan biopsi. Perbedaan antara mamografi dan USG adalah, mamografi menggunakan sinar X, sementara USG menggunakan gelombang suara. Untuk memastikan bahwa memang ada kanker dan bukan pemeriksaan rutin tahunan, biasanya dokter akan menyuruh melakukan keduanya.

Setelah mendengar perintah dokter untuk melakukan biopsi, mama tidak langsung menjalaninya karena masih kuat penolakan itu bahwa memang benjolannya hanya tumor jinak, bukan kanker. Sederhananya, biopsi adalah pengambilan sampel jaringan yang kemudian akan diperiksa lebih lanjut di laboratorium. Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan dan mengetahui tingkat keganasan jaringan tumor yang ada pada pasien. Tujuannya untuk menentukan pengobatan apa yang harus diberikan kepada pasien. Saat itu mama sempat melakukan pengobatan herbal dengan meminum rutin teh anti kanker yang sempat hits dan berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa bulan mengonsumsi teh herbal tersebut, ternyata tidak ada perubahan pada benjolan di payudara mama. Hingga akhirnya pada Bulan Maret 2016 beliau ke Jepang dalam rangka penelitian dan mengunjungi kakak yang sedang mengambil studi doktoral di sana. Dengan adanya penolakan dari dalam diri, bahwa memang tidak ada kanker di dalam tubuhnya, mama menginginkan second opinion  agar bisa lebih yakin langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Akhirnya diputuskanlah untuk menjalani biopsi di Jepang. Ternyata dokter Jepang seketika itu juga menyarankan mama untuk menjalani operasi, padahal Jepang termasuk salah satu negara yang dokternya tidak secepat itu untuk menyuruh pasien operasi.

Setelah mendapat second opinion  dari dokter di Jepang, akhirnya dilema dan penolakan itu berangsur-angsur berkurang. Mama mulai menyadari dan menerima bahwa memang ada kanker dalam tubuhnya yang harus segera diangkat melalui operasi. Mengenai kanker dan penolakan, hal ini sangat wajar terjadi. Tidak ada seorang pun yang begitu saja menerima bahwa dalam tubuhnya mereka memiliki sakit parah yang harus disembuhkan. Karena percayalah, kanker sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda adanya sakit parah dalam tubuh pasien ketika masih stadium awal. Semuanya terasa baik-baik saja. Tidak ada gejala-gejala khusus yang dirasakan oleh pasien, apalagi kanker payudara. Satu-satunya gejala awal adalah adanya benjolan di payudara, tanpa adanya efek lemas, letih dan lesu seperti orang sakit pada umumnya. Maka dari itu, semua pasien kanker khususnya payudara pasti akan mengalami penolakan-penolakan bahwa di dirinya memiliki penyakit, karena memang merasa semuanya baik-baik saja.

Di titik inilah yang sebenarnya akan menentukan bagaimana nasib sang pasien kanker ke depannya. Ketika penolakan itu semakin kuat dan yakin bahwa nantinya akan sembuh tanpa perlu menjalani semua proses pengobatan yang ada, maka tidak jarang kita mendapat kabar bahwa kerabat, kenalan, atau siapa saja yang kita kenal meninggal karena kanker payudara. Bukan berarti menyalahi takdir, karena memang ajal sudah diatur, tapi menjalani proses pengobatan adalah salah satu ikhtiar kita untuk terus sehat agar nantinya bisa memperbanyak ibadah kepada Tuhan. Saya akan sering menyebutkan hal ini, karena tidak jarang saya mendengar cerita dari orang-orang yang saya temui, keluarga mereka yang meninggal karena kanker payudara beranggapan bahwa ajal sudah diatur oleh Allah, sehingga mereka merasa cukup dengan pengobatan alternatif atau minum herbal saja, tanpa perlu berusaha lebih kerasa menjalani proses pengobatan di dokter.

Sebagai seseorang yang berinteraksi secara langsung dengan pasien-pasien kanker dan keluarga pasien yang meninggal karena kanker, saya menyimpulkan bahwa kita tidak boleh meremehkan begitu saja ketika ada sesuatu yang ganjil di tubuh kita, misalnya sebuah benjolan. Tidak perlu khawatir dan memilih untuk mendiamkannya, karena sebelum semuanya terlambat, lebih baik kita langsung memeriksakannya ke dokter. Penting juga untuk menuruti apa saran dari dokter dan berusaha semaksimal mungkin menghilangkan keraguan dan penolakan dari dalam diri.

Lulun Khairunnisa,

Ditulis di Jakarta, 02 Mei 2019

Dibaca di mana saja, kapan saja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s