Secercah Hikmah di Sudut Rumah Sakit

Impian saya sederhana Mbak, cuma pengen hidup lebih lama sampe anak-anak saya setidaknya bisa urus diri mereka sendiri

Bagi kebanyakan orang, mengantre adalah hal yang paling membosankan. Sebenarnya saya termasuk orang kebanyakan hingga saya bertemu dengan seseorang, seorang ibu yang mengubah pandangan saya tentang menghargai waktu detik demi detik yang dijalani. Pagi itu setelah mengambil nomor antrean untuk membuat SEP di rumah sakit, saya memilih duduk di depan Food Mart, sebuah covinience store yang berada di lantai dua rumah sakit tersebut. Ada dua buah meja dengan tiga kursi di setiap mejanya. Salah satu meja telah terisi, menyisakan satu meja kosong yang bisa saya tempati.  Setelah membuka minuman yang saya beli, saya mengambil bekal buku dari tas dan mulai membacanya. Buku tetap lah salah satu pembunuh waktu paling setia ketika harus mengantre dalam waktu lama.

Sepuluh menit berlalu, tiba-tiba ada seorang ibu yang menyapa saya “Mbak, ini kosong yah?” tanyanya sambil menunjuk kursi di depan saya. “Ohh iya Bu, kosong kok, silahkan” jawabku sambil tersenyum. Kemudian saya melanjutkan membaca buku dan si ibu tadi terlihat mulai mengeluarkan makanan yang baru saja beliau beli. “Mari Mbak, makan yaa” si ibu berbasi-basi sebelum mulai makan. “Ohh iya Bu, silahkan” Kejadian semacam ini sudah sering terjadi, biasanya ketika mengantre, saya duduk di meja itu dan akan ada orang lain yang ingin duduk bergabung. Mengingat rumah sakit nya sangat ramai, susah untuk menemukan tempat yang benar-benar kosong. Biasanya saya akan tetap membaca sambil sesekali melihat layar nomor antrean tanpa berusaha membuka pembicaraan dengan orang semeja.

“Yang sakit siapa Mbak?” tiba-tiba si ibu memecah keheningan di antara kami. “Ibu saya Bu, kalau ibu sendiri mengantar siapa?” Jawabku sambil bertanya kembali ke beliau. “Saya sendiri Mbak yang sakit, kalau saya mah ngga mau diantar Mbak, kalau ada yang antar pasti ngga dibolehin nih jajan macam-macam kayak ini” ujar ibu tersebut dengan ekspresi lucu. “Wahh emang sakit kanker apa Bu? Kok berani berangkat sendiri?” Tanyaku. Oya, rumah sakit yang saya datangi adalah Rumah Sakit Kanker Dharmais, rumah sakit nasional rujukan pasien kanker se Indonesia. “Kanker tulang Mbak” jawabnya dengan tersenyum. Biasanya saya akan melanjutkan pertanyaan dengan menanyakan proses dan terapi apa saja yang sudah dijalani, tapi sebelum bertanya lebih lanjut, si ibu sudah menjawab terlebih dahulu. “Saya sudah lima belas tahun Mbak sakit kanker, awalnya payudara, otak, kemudian sekarang tulang” Seketika saya hanya terdiam sambil melihat beliau dengan tatapan sedih.

“Oya Mbak, yang sakit ibunya yah? Apa ada keluarga lainnya juga yang sakit kanker?” tanya beliau penasaran. Tidak biasanya dalam percakapan basa-basi di rumah sakit ada orang yang menanyakan hal tersebut, biasanya hanya menanyakan perihal proses dan terapi-terapi yang dijalani. “Bulan lalu tante, adik ibu saya divonis kanker payudara, terus seingat saya nenek saya meninggal karena kanker hati” Ujarku perlahan. “Mbak harus periksa juga, bukannya gimana, ibu dan dua kakak perempuan saya semuanya meninggal karena kanker” kata ibu itu dengan serius. “Innalillahi… meninggalnya setelah menjalani semua proses pengobatan Bu?” dengan penasaran dan perasaan deg-degan saya bertanya. “Ngga Mbak, semuanya ngga ada yang menjalani proses pengobatan di rumah sakit, mereka semua pake alternatif ke orang pintar, saya bersyukur sekali Mbak meskipun harus sakit selama lima belas tahun ini tapi setidaknya Allah masih beri saya kesempatan hidup” Jelas beliau panjang lebar.

Masih dengan perasaan tidak karuan saya bertanya pada si ibu “bagaimana ceritanya kok ibu bisa bertahan lima belas tahun ini dengan berbagai macam kanker?” “Mbak percaya ngga kalau saya pernah divonis dokter hidupnya tinggal tiga hari?” tanya beliau sebelum menjawab pertanyaanku. “Hemmm ngga percaya bu” ya saya tidak percaya, karena beliau terlihat begitu sehat dibandingkan pasien-pasien lainnya yang sering saya temui. “Iya Mbak, saya pun ngga percaya. Pertama kali saya sakit kanker adalah payudara, waktu itu saya menjalani semua proses penyembuhan mulai dari operasi, radioterapi dan kemoterapi, dua tahun menjalani itu semua kemudian saya sembuh, dinyatakan bebas dari sel kanker” Terang beliau sambil memakan kue lapis yang sebelumnya ditawarkan ke saya.

Sebelum melanjutkan ceritanya, beliau tiba-tiba bertanya “Mbak percaya dengan takdir Allah?” “Iya bu saya percaya” jawabku singkat. “Saya duduk di sini di depan Mbak adalah bagian dari takdirNYA” Ujar beliau sambil tersenyum. Saya mulai menerka-nerka dan penasaran kira-kira bagaimana kelanjutan kisah beliau. “Setelah sembuh dari kanker payudara, saya merasa harus lebih totalitas dalam hidup Mbak. Saya kerja keras dan benar-benar mengejar karir, tujuannya cuma satu, yaitu uang. Waktu itu saya merasa diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup lagi, berarti saya harus mengumpulkan banyak uang untuk anak saya, jaga-jaga kalau suatu saat nanti saya meninggal” tutur beliau perlahan. “Saat itu juga saya sudah malas-malasan kontrol ke dokter padahal aturannya saya masih harus kontrol tiba bulan sekali. Hingga pada suatu ketika saya terjatuh tiba-tiba, padahal saya merasa baik-baik saja.” Singkat cerita beliau menceritakan bahwa ternyata penyebab jatuhnya waktu itu adalah kanker otak yang sama sekali tidak beliau sadari. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan ternyata kankernya sudah berada di stadium akhir.

“Saat itu saya di ruang ICU Mbak, sudah lengkap semua alat-alat di tubuh, sebelumnya dokter juga sudah bilang kalau hidup saya hanya bertahan sekitar tiga hari lagi” dengan nada tegar beliau melanjutkan kisahnya. “Waktu itu saya masih sadar sebenarnya, tapi saya sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Yang ada di pikiran saya saat itu hanya Allah dan anak-anak saya. Waktu itu anak-anak saya masih kecil Mbak, saya ngga kebayang aja kalau saya meninggal nanti gimana, siapa yang urus mereka. Karena saya yakin bapaknya pun ngga bisa, palingan nanti bapaknya nikah lagi, kasian anak-anak saya, pasti ibu barunya ngga bisa totalitas mendidik mereka” kata si ibu dengan nada sedih, saya pun merasa sangat sedih mendengarnya.

“Impian saya sederhana Mbak, cuma pengen hidup lebih lama sampe anak-anak saya setidaknya bisa urus diri mereka sendiri. Saya sama sekali tidak menyangka bisa sehat lagi Mbak, semua orang sudah pesimis. Tapi Allah memang Maha Pemberi Kehidupan, qadarullah saya bisa sehat lagi setelah dinyatakan hampir meninggal” cerita beliau masih dengan nada dan ekspresi tidak percaya. “MashAllah Bu saya merinding denger cerita ibu” ujarku dengan mata berkaca-kaca. “Iya Mbak, Allah itu baik banget, setelah kejadian itu saya bener-bener evaluasi diri dan taubat nasuhah. Saya tidak lagi gila kerja, saya benar-benar berusaha memaknai hidup yang saya jalani, ini liat Mbak” ujar beliau sambil mengeluarkan Al-quran dari tasnya. “Al-quran ini sudah jelek sekali karena saya hampir tiap saat berusaha membacanya, apalagi kalau harus ke rumah sakit begini, ngantre lama, macet di jalan, yahh saya isi waktu dengan mengaji. Mbak biasanya kalau ibunya ketemu dokter ketika kontrol berapa lama?” tanya beliau. “Sebentar bu, palingan cuma sepuluh sampai lima belas menit” jawabku. “Nahh sesingkat itu kan, logikanya apa iya kita bisa sembuh hanya dengan ketemu dokter sesingkat itu? Dokter itu hanya perantara Mbak, yang membuat kita sembuh adalah ikhtiar kita pada Allah. Ketemu dokter sepuluh menit, tapi Mbak di rumah sakit sejak jam berapa? Ngantre berapa lama? Pasti berjam-berjam bahkan bisa seharian. Disitu lah Allah melihat ikhtiar kita, kemudian memberi kita kesembuhan” Lanjut beliau dengan panjang lebar. Lagi-lagi saya hanya bisa mengiyakan semua ucapan beliau.

Rasa-rasanya tidak ada yang perlu disimpulkan dari kisah pertemuan saya dengan si ibu di atas, pada intinya semua yang terjadi dalam hidup kita adalah dengan campur tanganNYA, maka dari itu kita harus terus meningkatkan keimanan dan ikhtiar dalam setiap episode kehidupan yang kita jalani. Pertemuan dengan ibu itu adalah salah satu skenarioNYA yang luar biasa sekali sehingga saya bisa mendapat pelajaran hidup yang sangat berkesan. Terima kasih Bu, kegiatan mengantre yang biasanya sangat membosankan dan saya anggap tidak berharga menjadi sangat berarti setelah mendengar kisah Ibu itu.

Di blog ini saya akan berbagi sedikit informasi dan kisah perjalanan ibu saya sebagai salah seorang cancer survivor.

Ditulis di Jakarta, dibaca di mana saja

Advertisements

5 thoughts on “Secercah Hikmah di Sudut Rumah Sakit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s